Business / Harley Davidson-Welcome To Experience Marketing

Harley Davidson-Welcome To Experience Marketing

This essay Harley Davidson-Welcome To Experience Marketing is available for you on Essays24.com! Search Term Papers, College Essay Examples and Free Essays on Essays24.com - full papers database.

Autor:  anton  25 December 2010
Tags:  Harley,  Davidson,  welcome,  Experience,  Marketing
Words: 2932   |   Pages: 12
Views: 439

WELCOME TO THE EXPERIENCE MARKETING

Experiental Marketing Pada Perusahaan Harley Davidson

Abstrak:

Pada era yang telah memasuki suatu bentuk pasar yang mulai terbentuk suatu keinginan yang tinggi dan dimana pasar dapat diciptakan dan dibentuk. Membuat para pemasar diharuskan lebih jeli dalam melihat kecenderungan ini. Adanya need yang terselubung yang tidak kasat mata. Hal ini yang harus dapat dibaca oleh para pemasar. Apa yang benar-benar diinginkan pelanggan yang belum tersentuh oleh produk atau merek mereka. Bukan hanya bagaimana cara memakai suatu produk, --tetapi apa nilai-nilai yang didapat? apa yang dirasa? apa yang bisa dibagikan kepada orang lain?--ketika seorang pelanggan berbicara tentang produk tersebut. Harley Davidson merupakan salah satu perusahaan yang menceritakan pengalaman itu disetiap karyawan dan pelanggannya.

Kata kunci: Experiental Marketing, Harley Davidson, Pengalaman, Komunitas.

PENDAHULUAN

Dream society didefinisikan sebagai masyarakat yang membentuk emotional market atau pasar dengan perilaku konsumen yang melulu emosional dan berdasarkan pengalaman. Ini salah satu ciri masyarakat hedonis yang membeli produk berdasarkan gaya hidup, petualangan, cinta dan persahabatan, identitas dir, serta kedamaian dan kepercayaan. Ini juga merupakan indikasi terjadinya transformasi pemasaran ke arah pendekatan yang lebih mengeksploitasi pengalaman konsumen. Impikasinya, sejumlah perusahaan yang cerdas dewasa ini melihat bahwa pengelolaan bisnis tidak bisa lagi mengandalkan bentuk-bentuk pemasaran konvensional semata-mata; bisnis mesti dikelola layaknya mengelola show-biz (bisnis hiburan). (Pine II & Gillmore, 1998).

Experiental Marketing adalah sebuah metodologi pemasaran yang telah dikenal luas. Metodologi ini menggunakan pengalaman yang sesuai dengan Brand/Merk untuk menarik baik itu unsur rasional maupun unsur emosional sebagai pemicu untuk membeli terhadap target pasar.

“Seorang pemasar dikatakan berhasil apabila ia menceritakan cerita yang sesuai dengan pandangan kita, sebuah cerita yang secara intuisi mencakup keseluruhan dari hidup kita.” Kata Seth Godin dalam bukunya yang berjudul All Marketers Are Liars.

Pemikiran dasar dari Experiental Marketing adalah berkaitan dengan bias pada otak sebelah kanan karena ini berkaitan dengan memenuhi aspirasi pelanggan yang berhubungan dengan pengalaman yang ingin dirasakan. Kenyamanan dan kenikmatan dalam satu genggaman dan menghindari ketidaknyamanan dan ketidaknikmatan di sisi lain.

Experiental Marketing telah menjadi pendekatan pemasaran yang kini menjadi suatu senjata yang patut dipertimbangkan oleh para pemasar. Menurut suatu studi oleh HPI Research Group, 68% Eksekutif Pemasaran membelanjakan anggarannya untuk Experiental Marketing pada tahun 2005 dibanding pada tahun sebelumnya.

Experiental Marketing juga dideskripsikan sebagai Costumer Experience Marketing karena pada dasarnya adalah mengkomunikasikan inti dari Merk melalui pengalman secara pribadi. Dan lebih lanjut dikatakan oleh Erik Hauser bahwa Experiental adalah sebuah metodologi bukan sebuah medium.

Dengan semakin berkembangnya dan semakin banyaknya pemain yang masuk dalam pasar sehingga alat pemasaran 30 detik dalam saluran televisi membuat para pemasar mencari alternative lain dalam menyampaikan Merk pada pelanggan. Dan Experiental Marketing merupakan pendekatan yang banyak telah diterapkan oleh sebagian besar pemasar. Dalam kurun waktu sepuluh tahun ini, Experiental marketing juga telah menjadi topic utama dalam Merk yang mendunia saat ini. Beberapa merk ternama yang sukses menerapkan Experiental Marketing untuk menjangkau target pasarnya adalah Levi’s, Nokia, Harley-Davidson dan VolksWagen.

FOKUS EXPERIENTAL MARKETING

Setiap jenis industri dewasa ini mulai menyadari bahwa mereka harus meninggalkan praktik business yang konfensional dan mulai beralih pada konsep dengan penataan panggung bisnis yang apik, kaya kreativitas, humor, fantasi, dan berbagai aktifitas yang menggelitik naluri konsumen. Semua itu bertujuan menciptakan aneka sensasi yang mampu mengeksploitasi naluri belanja konsumen.

Bern H. Schmitt dan David L. Rogers(2004) menyebut tiga tren transformasi pemasaran yang nampaknya mencolok, yaitu daya periklanan tradisional, konsumen yang semakin well-informed dan independen, serta berkembangnya kutur. Ketiga tren inilah yang mengharuskan para pelaku bisnis mengelola bisnis mereka sebagai panggung pertunjukan, yang memenuhi karateristik : menghibur, melibatkan emosi konsumen, menciptakan komunikasi dua arah, dan menciptakan value bagi bisnis.

Metodologi Experiental Marketing ini focus pada bagaimana menciptakan atau mengubah lingkungan dimana konsumen berinteraksi. Fokusnya adalah bagaimana pelanggan merasakan Sense, Feel, Act dan Relate kepada perusahaan, sebuah Merk, atau Jasa. Disini mereka berusaha untuk menciptakan lingkungan individual pada pelanggan untuk pengexplor dan itulah tujuan yang ingin dicapai oleh suatu bisnis.

Menurut Joel dalam Artikelnya pada situs Experiental Marketing Forum tanggal 14 Maret 2006, Langkah pertama dalam pemaparan Experiental Marketing adalah menganalisa dunia pelanggan dan menentukan konsep bisnis yang terbaik. Menganalisa Kebutuhan dan Keinginan pelanggan, dan bagaimana hal ini dapat masuk sebagai lifestyle mereka. Langkah kedua adalah mendesain dan menerapkan suatu experience Brand atau produk dan secara berkelanjutan me-review dan memperbaharui konsep tersebut.

“Think Globally, Act Locally,” menawarkan sebagai suatu fondasi yang kuat untuk sukses. Setiap daerah, setiap wilayah, setiap budaya memiliki pandangan yang berbeda-beda dan tingkatan need and want yang berbeda pula akan suatu produk Para pemasar dapat memulai dengan pertanyaan “bagaimana kita dapat menjelaskan arti pengalaman dalam produk kita?” Hal ini secara mengejutkan mampu meningkatkan efektifitas kinerja dan program yang sebelumnya melenceng jauh dari target yang diharapkan.

Daniel Goleman, penulis yang telah memopulerkan emotional intelligence (EI, kecerdasan emosional) beberapa tahun lalu mengatakan, ukuran EI seseorang adalah EQ (emotional quotient), yang sering dipakai sebagai salah satu tolok ukur faktor sukses. Bahkan, kini sering dianggap lebih penting dari IQ (intellectual quotient). IQ umumnya berhubungan dengan kemampuan berpikir kristis dan analitis, dan diasosiasi dengan otak kiri. Sementara itu, EQ lebih banyak berhubungan dengan perasaan dan emosi (otak kanan).

Banyak Produk yang ditawarkan dengan berbagai keunggulan dan spesifik-spesifik yang beragam yang dapat dikaitkan dengan kepandaian, kemahiran dan inovasi-inovasi baru para perusahaan dalam mendesain produk. Hal ini berkaitan dengan Inteligent Quotient Perusahaan. Namun bagaimana perusahaan dapat menciptakan SENSE, FEEL, ACT and RELATE dalam spesifikasi produk yang hanya bisa didefinisikan dalam benak pelanggan merupakan hal yang bekaitan dengan pengalaman dalam suatu Brand, Jasa, atau perusahaan. Hal ini berkaitan dengan Emotional Quotient Perusahaan. Dan seberapa besar perusahaan dapat menciptakan pengalaman dalam Brand-nya? Seberapa efektifkah komunikasi perusahaan pada pelanggan? Itu tergantung seberapa besar konsumen merasakan Sense, Feel, act dan relate dari Brand tersebut.

HARLEY DAVIDSON

Ikon Internasional Dari Sebuah Deru Yang Memekakan

”Ini adalah tentang bahaya, tentang berada di bawah terik matahari dan terpaan angin kencang. Ini adalah penghayatan pengalaman yang nyata dan sensual.” Itulah ungkapan dari salah satu pemilik Harley Davidson, Regina Burston. Ia adalah seorang Konsultan, Lulusan Harvard.

Di Indonesia, siapa yang tidak mengenal Tukul Arwana. Pembawa acara Empat Mata disalah satu stasiun swasta ini merupakan salah satu Pengendara Harley Davidson. Bahkan sempat menjadi ikon dalam acaranya dimana tampak Tukul menunggangi HD mengelilingi Bundaran HI. Dan produser mengatakan tampilan ini dapat menjadi penarik perhatian pada figur Tukul dalam acara tersebut. Dalam bahasa khasnya, Tukul berujar, dirinya sangat puas dengan motor gede satu ini. “O, Puaaaasss... puaasss banget. Memang benar-benar kelas tersendiri. Setiap laki-laki pasti berkeinginan dapat mengendarai dan memiliki Harley Davidson. Rasanya, mantap sekali.” kata suami Susiana dan ayah dari Novita Eka Afriana ini.

Menjadi ikon internasional dalam sejarah kendaraan roda dua dengan silinder mesin di atas 400 cc, yang di Indonesia dikenal dengan istilah motor gede alias moge. Sejarah perusahaan Harley Davidson berawal dari niat Wiliam Harley dan Arthur Davidson untuk mengarungi area Milwaukee, Wincounsin, Amerika Serikat, yang mempunyai kontur jalan dengan tanjakan yang sangat terjal.

Tahun 1903 Harley dan Davidson berhasil merakit motor bermesin satu silinder dengan kapasitas 60 cc yang mampu melahap tanjakan terjal di kawasan Milwaukee. Dua tahun kemudian (1905), dua saudara Arthur Davidson-Walter dan William-bergabung dan membentuk perusahaan Harley-Davidson Motorcycles.

Terobosan terbesar HD adalah memperkenalkan mesin dua silinder konfigurasi V dengan sudut 45 derajat, berkapasitas 790 CC-kini sudah dipatenkan secara internasional-yang mampu menghasilkan kekuatan tujuh tenaga kuda dan mencapai kecepatan di atas 120 kilometer per jam. Lewat produk itu HD mewujudkan impian masyarakat Amerika Serikat (AS) mengenang masa pembukaan daerah barat, menunggang "kuda besi" melintasi jalan raya antarnegara bagian secara bergerombol.

Sejak itu bermunculan kelompok pengendara HD di wilayah AS. Beberapa kelompok yang terkenal di dunia seperti Hell's Angels dan Arlen Ness, misalnya, terdiri atas sekelompok pria kulit putih berambut panjang, memakai jaket kulit dengan tubuh dipenuhi tato. Solidaritas bersedia mati untuk membela teman sekelompok di dalam kelompok pengendara HD memberikan kesan eksklusif dan misterius.

Aura Harley Davidson Di Indonesia

Masyarakat Indonesia mengenal motor HD antara tahun 1945-1950. HD yang berkeliaran di Indonesia saat itu merupakan moge bekas Perang Dunia II yang dipesan dari Harley-Davidson Motorcycles untuk kepentingan tentara Sekutu. Pada waktu itu, Harley-Davidson Motorcycles memproduksi HD seri WML dengan kapasitas mesin di atas 1.000 cc, sebanyak lebih kurang 90.000 unit.

Pengguna HD di Indonesia kemudian berkembang. Hingga pada 20 Mei 1990 resmi terbentuk komunitas HD Indonesia di Bandung dengan nama Harley Davidson Club Indonesia (HDCI). Seri klasik HD yang paling dicari bagi para pencinta HD di Indonesia adalah produksi tahun 1950- an dengan nama HD Douglade. Dengan kapasitas mesin 1.200 cc, HD seri ini mampu dipacu hingga kecepatan lebih dari 200 kilometer per jam.

“We Are Driving The Experience”

Bukan penggemar Harley-Davidson namanya kalau tidak membuat sensasi besar. Iulah judul tajuk Minggu, 11 Maret 2007, pada kolom artikal di situs Kompas. Sejarah itu tercatat ketika iring-iringan 479 motor Harley-Davidson dari berbagai jenis memenuhi jalanan ibukota. Dimulai dari showroom PT Mabua Harley Davidson yang menjadi Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) Harley-Davidson di Indonesia di kawasan TB Simatupang, konvoi bergerak menuju pusat kota.

Tak tanggung-tanggung, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso berada di barisan terdepan konvoi. Saat itu anda tidak akan menemukan sosok Sutiyoso dengan setelan jas-dasi dengan “wajah pejabat.” Namun anda akan melihat seorang dengan Jaket Hitam, celana Jeans Hitam, lengkp dengan sepatu Boot khs Penunggang HD , sarung tangan hitam dengan Helm Setengah lingkaran. Jauh dari kesan seorang pejabat. Semua terlihat hampir sama. Sutiyoso mengaku dirinya bukan orang baru di deretan penggemar motor besar Harley-Davidson. Kegembiraannya kian membuncah tatkala panitia mengumumkan arak-arakan ini resmi terukir dalam galeri Museum Rekor Indonesia (MURI). “Saya bangga menjadi bagian dari pencatat rekor itu.” Kata mantan Panglima Kodam Jaya ini. Satu harapan Bang Yos, para penggemar Harley-Davidson juga banyak mengarahkan aktivitas pada kegiatan sosial bersama. Selain Sutiyoso, juga dimarakkan figur publik lain penggila HD, seperti aktor dan politisi Sophan Sophiaan, presenter Teuku Edwin, artis Adi Bing Slamet, dan Chris Salam.

Pokoknya seru, suasananya persis seperti Daytona Bike Week,?kata pembawa acara Go-Show, Edwin, mengacu pada even rally motor tahunan di Daytona Beach, Florida, Amerika Serikat, yang rata-rata diikuti sampai setengah juta bikers Mayoritas di antaranya motor HD.

Para pemasar HD mengetahui apa yang diperlukan oleh perusahaan dan apa yang diperlukan oleh pelanggan. Mempunyai kedekatan hubungan dengan merek sangat diperlukan bagi para karyawan. Oleh karena itu para karyawan bukan hanya membuat dan menjual sepeda motor tetapi mereka juga menjadi pelanggan. Ini yang disebut dengan Konsep Internal dan External Costumer. Mereka paham, sebuah Harley bukan hanya sekedar sepeda motor, itu adalah sebuah gaya hidup, sebuah karya seni, sebuah hubungan batin dengan suatu komunitas yang unik dan tersebar luas.

Secara sadar atau tidak, selama ini Harley Davidson adalah suatu perusahaan yang telah menerapkan suatu pemasaran yang sarat dengan emosional. Suatu prototype dari Experience Marketing. Sudah banyak yang menulis tentang kebangkitan perusahaan itu dari kehancuran era 1980-an dan kini menjadi primadona Wall Street dan simbol dari kebersamaan, semangat juang. Selama era 1980-an itu, perusahaan yang sekarat dan harus berjalan dengan “alat infus” selama beberapa tahun akhirnya bangkit dari keterpurukan. Dan Harley Davidson pun menjadi sebuah kisah tentang pengalaman yang sangat mendalam tentang kepercayaan pada suatu merek yang mampu bertahan hidup dan yang dikelola dengan cemerlang dalam menghadapi pesaing-pesaing yang lebih tangguh.

Ketika para produsen sepeda motor asing seperti para perusahaan Jepang dengan gempuran yang membabi buta menembus pasar sepeda motor futuristik yng gesit dan ramping, HD semakin mengarahkan fokus pada desain warisan tradisionalnya. Sekalipun banyak orang telah berusaha menalarkan pesona dan mistik sepeda motor Harley Davidson dalam konsep Marketing, styling-nya yang unik, derunya yang khas, dan nuansa kebebasan. Nyatanya, tidak ada penjelasan sederhana untuk menjelaskan daya tariknya. Para Eksekutif HD menyatakan belum pernah mencoba untuk mendefinisikan mistik itu. “Jika anda benar-benar bisa mendefinisikan mistik itu, itu bukan lagi mistik namanya.” kata CEO HD, Jeff Bleustein. Tetapi mistik itu bisa dihayati dan di eksploitasi, tidak hanya oleh perusahaan itu sendiri tetapi juga oleh orang lain.

Rasanya aneh jika sebuah perusahaan besar tidak memiliki iklan. Namun itu yang terjadi pada HD. Sebaliknya, perusahaan lain yang meminta agar HD dapat dipakai dalam iklannya. Tercatat, Lima peusahaan setiap bulannya meminta agar HD dapat diikut sertakan dalam iklannya. Pada tahun 1997 HD hanya mengeluarkan $1juta untuk periklanan dan tahun sebelumnya mengeluarkan nol dollar.

Aspek Experience Dalam Harley Davidson

Apa sebenarnya yang menjadi jantung pergunjingan tentang sebuah sepeda motor? Para ekxekuif perusahaan pernah dengan cermat meneliti iktan emosional antara para pengendara Harley dan produknya, dan telah mengikuti parameter-parameter yang tegas dalam sebuah aspek desain, manufaktur, dan pemasaran sepeda motor yang mendukung mistik ini dan yang semakin mempererat ikatan tadi. Hingga akhirnya HD pun mengajukan hak paten untuk deru sepeda motornya.

Bagi banyak orang, deru Harley adalah salah satu sumber polusi suara. Namun bagi para Penunggang HD, suara deru ini merupakan panggilan bercinta. Dan hal itu merupakan faktor dari Sense yang dirasakan oleh pengendara HD dan dapat pola bagi pemasar perusahaan dalam membangun merek mereka.

Feel The Experience

Pesona komunitas pengendara Harley Davidson tidak dapat dibandingkan dengan yang lain. Bila ingin dibandingkan? Tidak semudah itu. HD tidak hanya menciptakan suatu komunitas yang ekspansif, tetapi juga menanamkan sesuatu yang sangat menentukan di dalamnya. Yaitu: Kesamaan. Jika seseorang telah memasuki suatu kumpulan penunggang Harley, akan sangat sulit membedakan seorang CEO sebuah perusahaan dengan seorang staff Akuntan. Dan setiap orang lebih terfokus pada mengagumi motor-motor lain dan menceritakan kembali pengalaman-pengalaman kisah-kisah reli daripada memperbandingkan resume dan status sosial. Kenyataannya, para petinggi seperti Sutiyoso, Sophan Sophian, sependapat bahwa mengendarai motor adalah wahana penguras stress yang efektif, suatu pengalaman transenden yang menimbulkan kelegaan yang sangat dibutuhkan dari tekanan kehidupan bisnis sehari-hari. Seperti ungkapan Chairman Harley Davidson, Rich Teerilnk, “Kami memasarkan keasyikan.”

Unsur Think dan Act Dalam Harley Davidson

Terlepas dari sejarah panjangnya, era keemasan yang sebenarnya dari perusahaan itu baru mekar penuh dalam lima belas tahun terakhir ketika perusahaan itu bertemu dengan generasi baby-boom pada 1970-an yang telah lama mengidamkan Harley dan baru sekarang dapat mewujudkannya. Para selebritis pemilik Harley sebut saja Jay Leno, Arnold Schwarzenegger, Pebasket Karl Malone, Gubernur Sutiyoso sampai Indro “Warkop” juga secara tidak langsung ikut menciptakan semangat baru dalam benak para calon penunggang Harley. Para calon pembeli juga ingin seperti mereka. Dengan bangga menunggangi Harley dan masuk dalam komunitas kebersamaan.

Mungkin sebagian pelanggan setia dari berbagai merek ternama mengenal baik keunggulan dan keunikan produknya. Namun, sangat sedikit pelanggan mengenal perusahaan itu sendiri seperti Harley Davidson. Sungguh, setiap tahun sekitar 60.000 orang mengunjungi pabrik perakitan di York, Pennsylvania, dan 25.000 lagi mengunjungi pabrik mesin di Milwaukee. Pelanggan dapat merasakan bagaimana suasana pembuatan dan atmosfir para karyawan yang loyal.

Aura Harley tidak hanya dilihat dari para pemilik Harley. Coba kita lihat ketika seseorang memakai baju atau Jaket dengan lambang Harley di dada. Ada rasa kepuasan tersendiri walaupun memiliki Harley atau tidak, jika mereka menganggap diri mereka orang Harley, mereka telah menangkap Sense dan Feel serta Think seperti para komunitas Harley. Merek ini telah menjadi suatu transenden bagi semua orang yang berjiwa kebebasan, kebersamaan dan loyal. Pola pikir itu juga didapat didalam Harley dan dianggap layak mewakili hal itu.

Kini sense, feel dan think itu melekat pada Cangkir, Jaket kulit hitam, Celana Jeans, Sarung tangan, miniatur Sepeda Harley, Topi Baseball, T-Shirt, Bed Cover, dan sampai pada Boneka Barbie yang memakai jaket kulit yang berdiri disebelah mainan sepeda motor Harley. Bahkan HD dijadikan ikon dalam beberapa merek lainnya seperti iklan produk rokok.

Kini Harley berhasil meningkatkan produksi sebesar 10-15 persen per tahun dan membuka dua pabrik baru pada tahun 1998. Dan menjadikannya perusahaan yang diminati di lantai bursa saham Wall Street.

Para pemasaran profesional memperkirakan para pesaing mempunyai kesempatan untuk me-redefinisi-kan pasar sepeda motor cruiser, menyingkiri pengikut setia Harley dan mencari jalan untuk menjadikan sepeda motor mereka cukup tegar untuk membangun momentum dan menyerang Harley dari samping. Jika mereka bisa mendapatkan pengendara yang tidak membutuhkan Harley, mereka bisa membangun komunitas sendiri. CEO Harley, Bleustein tidak bergeming. Ia mengatakan bahwa meniru Harley mungkin gampang, tetapi lain masalahnya jika menciptakan gaya hidup dan penghayatan total suatu Harley.

KESIMPULAN

Kualitas tetap menjadi penentu sementara Perusahaan tetap berusaha memperluas merek dengan pakaian , aksesoris, mainan, game, dan barang dagangan berlisensi lain. Warisan Harley berkembang dalam jangka waktu panjang. Memiliki visi yang konsisten adalah sangat menentukan bagi upaya mempertahankan merek. Dalam diri Willie G. Davidson sebagai cucu pendiri perusahaan itu memiliki penghubung vital dengan desain warisannya. Para karyawan mencintainya. Bahkan para pelanggan pun mencintainya.

Willie G. Benar-benar mendengarkan pelanggan. Contoh, berdasarkan masukan pelanggan, ia merancang lini-lini baru seperti softail 1997 untuk menghadirkan kembali keindahan dan keagungan Harley klasik tahun 1940-an seperti Hydra Glide. Dan Para karyawan percaya kekuatan ajaib itu muncul dari keakraban dengan para pelanggan serta suatu hubungan vital dengan masa lampau. Harley Davidson telah menciptakan suatu identitas yang dicintai di seluruh dunia.

Cetak biru yang digambarkan Harley bagi kebangkitannya kembali dari keterpurukan dan menciptakan Pengalaman yang mengidentikkan merek seperti dibawah ini:

1. Kualitas yang dibongkar total

2. komitmen kembali pada desain dan styling yang dulu merupakan trademark perusahaan itu.

3. Upaya membangun dan mendukung komunitas Harley. Hal ini adalah upaya menumbuhkan sense dan feel serta relate antara pelanggan dan produk.

4. Komitmen pada integritas merek.

5. Positioning bagi kesuksesan

6. Menciptakan pengalaman pribadi.

Harley berhasil melakukan apa yang saat ini menjadi impian setiap perusahaan, yaitu dalam mempertahankan elemen-elemen positif yang sangat menentukan. Dan membuat, menciptakan suatu experience dalam setiap pelanggan. Jika ada bukti pemasar-pemasar dalam menciptakan dan menerapkan konsep Experiental Marketing, maka Harley Davidson adalah salah satunya.

Referensi:

Pine II & Gillmore berjudul "Wellcome to the Experience Economi" (Harvard Business Review, Juli-Agustus 1998,

Bernd H. Schmitt, David L. Rogers dan KarenVrotsos Penulis Experiental Marketing (1999) dan Customer Experience Management (2003)

Seth Godin dalam bukunya yang berjudul All Marketers Are Liars.

Joel dalam Artikelnya pada situs Experiental Marketing Forum tanggal 14 Maret 2006,

Sam Hill dan Glenn Rifkin ( 2003 ) - Radical Marketing

Hhtp://www.wikipedia.co.id

Bibliografi:

Pine II & Gillmore berjudul "Wellcome to the Experience Economi" (Harvard Business Review, Juli-Agustus 1998,

Bernd H. Schmitt, David L. Rogers dan KarenVrotsos Penulis Experiental Marketing (1999) dan Customer Experience Management (2003)

Seth Godin dalam bukunya yang berjudul All Marketers Are Liars.

Joel dalam Artikelnya pada situs Experiental Marketing Forum tanggal 14 Maret 2006,

Radical Marketing – Sam Hill dan Glenn Rifkin ( 2003 )



Get Better Grades Today

Join Essays24.com and get instant access to over 60,000+ Papers and Essays

closeLogin
Please enter your username and password
Username:
Password:
Forgot your password?