Social Issues / J.Co Donuts &Amp; Coffee.

J.Co Donuts &Amp; Coffee.

This essay J.Co Donuts &Amp; Coffee. is available for you on Essays24.com! Search Term Papers, College Essay Examples and Free Essays on Essays24.com - full papers database.

Autor:  anton  18 March 2011
Tags:  Donuts,  Coffee
Words: 2871   |   Pages: 12
Views: 2331

BAB I

LATAR BELAKANG

Pada bagian Latar Belakang ini akan dijelaskan mengenai sejarah terbentuknya perusahaan dan profil dari perusahaan, serta produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan.

1.1 Sejarah dan Profil Perusahaan

PT. J.CO Donuts and Coffee didirikan oleh Johnny Andrean yang sebelumnya terkenal sebagai pengusaha salon yang sukses. Tak kurang dari 168 jaringan salon dan 41 sekolah salon dimilikinya, namun insting sang penata rambut kemudian membawanya terjun ke bisnis makanan. Sejak tahun 2003 ia aktif mengembangkan J.CO. J.CO adalah produk dalam negeri dengan menggunakan konsep dari luar negeri dan disempurnakan dengan modernisasi dan kualitas terbaik. J.CO ditujukan untuk menyerbu pasar asing.

Persiapan J.CO membutuhkan waktu yang lama. Selama 3 tahun Johnny Andrean dan timnya mempelajari bisnis donat, mengeksplorasi resepnya, serta melakukan riset pasar dan sampling. Johnny meluncurkan J.CO dengan konsep “apa yang disukainya dan hal ini bisa diterima masyarakat”.

Pada 26 Juni 2005, J.CO mulai beroperasi pertama kali di Supermal Karawaci, Tangerang dan kemudian langsung membuka outlet sebanyak-banyaknya. Dalam waktu setahun, J.CO telah punya 16 buah gerai dengan 450-an orang karyawan untuk gerai saja. Tujuh gerai terdapat di Jakarta dan sisanya di Bandung, Surabaya, Makassar, dan Pekanbaru.

Dalam waktu dekat mereka akan buka di Palembang, Batam, Manado, Bogor, Medan, dan Bali, dan ada keinginan juga untuk go international pada tahun 2007 dengan pilihan lokasi di Australia, Hongkong, atau Singapura.

1.2 Produk Perusahaan

Sesuai dengan namanya, J.CO mempunyai produk makanan berupa donat dan produk minuman berupa kopi atau the

yang panas maupun dingin. Yang diunggulkan oleh J.CO adalah produk makanannya, yaitu donat. Saat ini J.CO telah meluncurkan beberapa varian rasa dari donat, yaitu :

 Al Caponne  Donat dengan kacang almond di atas permukaannya.

 Berry Shot  Donat dengan selai berry di permukaan tengahnya.

 Mango Blitz  Donat dengan selai mangga di permukaan tengahnya.

 Sugar Ice  Donat bertabur gula halus di seluruh permukaannya.

 Inkaya  Donat berlumur gula halus dengan selai srikaya di tengahnya.

 Cheese Me Up  Donat berlapiskan olesan keju di permukaannya.

 CocoLoco  Donat dengan selai coklat untuk permukaan maupun isinya.

 Candy Cane  Donat dengan selai vanilla dan olesan selai strawberry untuk penghias, sehingga permukaannya mirip motif tongkat permen.

 Glazzy  Donat berselimut gula bercampur madu.

 Why Nut  Donat dengan selai vanilla dan coklat pada permukaannya, dan isian selai kacang di dalamnya.

 Miss GreenT  Donat dengan dilapisi lapisan rasa the

hijau di permukaannya.

 CrunchyCrunchy  Donat dengan selai coklat dan coco crunch pada permukaannya.

 Cocoglaze  Donat dengan topping coklat berkilat.

 Jacky Chunk  Donat dengan topping coklat dan bertabur kacang.

 Kiss d cheese  Donat dengan topping selai keju. Rasanya tidak sepekat Cheese Me Up.

 Black Jack  Donat dengan lapisan coklat, dimana coklat pada Black Jack rasanya lebih pahit dan lebih kental daripada Coco Loco dan Cocoglaze

 Berry Blue  Donat dengan isian selai blueberry di tengahnya.

 Snow White  Donat tanpa lubang di tengah berselimutkan gula halus.

 Copa Banana  Donat dengan selai coklat pada permukaannya dan selai pisang pada tengahnya.

 Tira Miss U  Donat dengan topping rasa kue tiramisu yang terkenal.

Dari 20 varian yang dimiliki, glazzy donut atau donat berselimut gula bercampur madu merupakan donat yang menjadi unggulan dan laris dipesan konsumen (best seller).

BAB II

PERUMUSAN MASALAH

Di Indonesia, J.CO bukan satu-satunya pemain dalam pasar donat yang ditekuninya. Ada beberapa kompetitor lain yang kehadirannya patut diperhitungkan dengan serius. Dua kompetitor besar dalam pasar donat di Indonesia yang kemungkinan dapat “menjegal” langkah J.CO adalah Dunkin Donuts (DD), dan Krispy Kreme Doughnuts (KK).

Baik DD maupun KK adalah waralaba dari luar negeri (Amerika) yang telah mempunyai pengalaman bertahun-tahun di bidangnya, mempunyai banyak penggemar, dan telah mempunyai banyak outlet yang tersebar di berbagai negara. Sebagai pemain baru, strategi apakah yang harus dipakai J.CO untuk menghadapi dua kompetitor besar ini?

Dengan sekelumit pengantar di atas, maka dapat disimpulkan beberapa perumusan masalah yang nantinya akan dibahas dalam paper ini, perumusan masalah tersebut adalah :

 Sejarah, latar belakang, serta ekspansi KK dan DD sebagai dua kompetitor besar pasar donat di Indonesia.

 Bagaimana segmentasi pasar dan strategi operasi yang digunakan oleh KK dan DD dalam menjalankan bisnisnya di Indonesia sebagai salah satu waralaba internasional?

 Bagaimana strategi operasi dan penentuan segmentasi pasar J.CO sehingga J.CO optimis mampu bertahan dan menghadapi KK, DD, dan pesaing-pesaing baru yang mungkin akan terus bermunculan dalam persaingan bisnis donat?

 Bagaimanakah perbandingan harga, pelanggan, dan rasa dari produk J.CO, KK, dan DD sebagai tiga pemain besar pasar donat di Indonesia?

Keempat perumusan masalah tersebut di atas akan dibahas pada Bab III, Pembahasan di halaman selanjutnya.

BAB III

PEMBAHASAN

Pada bagian Pembahasan ini ini akan dijelaskan mengenai dua kompetitor besar J.CO, yaitu Dunkin Donuts (DD) dan Krispy Kreme Doughuts (KK), bagaimana strategi operasi yang digunakan oleh kedua kompetitor tersebut dan bagaimana strategi dari J.CO untuk menghadapi dan berusaha bertahan dari kedua kompetitor tersebut.

3.1 Kompetitor

Krispy Kreme Doughnuts dan Dunkin Donuts, kedua nama ini pasti sudah tidak asing lagi bagi pecinta donat dimanapun. Keduanya merupakan waralaba asal Amerika yang telah mempunyai banyak outlet yang tersebar di seluruh dunia. Keduanya mempunyai pangsa pasar sendiri-sendiri dan mempunyai keunikan produk yang berlainan.

3.1.1 Krispy Kreme Doughnuts

Krispy Kreme Doughnut (KK) diciptakan pada tahun 1937 oleh Vernon Rudolph di Nashville dan berkembang menjadi 181 outlet di seluruh dunia pada tahun 2001. Pada awalnya KK dibangun untuk memenuhi kebutuhan akan donut secara wholesale yang kemudian pada tahun 1974 diubah menjadi specialty retail. Waralaba dipakai sebagai cara untuk mengembangkan KK menjadi lebih besar di beberapa negara bagian di Amerika dan negara-negara lain di dunia. Para pembeli waralaba ini di haruskan memiliki pengalaman di bidang multi-unit food operations dan juga harus mengerti bagaimana pasar di lokal area mereka.

KK di Indonesia dibuka di Pondok Indah Mall II pada Kamis, 24 Agustus 2006. Pada Grand Opening nya para pembeli real

mengantri berjam-jam, bahkan ada yang mengantri dari tengah malam. Daniel Leo, yang mengantri sejak malam sebelumnya pukul 22.15 WIB menjadi pembeli pertama dan diganjar hadiah 52 lusin donat gratis selama setahun. Saat dibuka, antrean mencapai lebih dari 200 orang dan sebanyak itu juga kaus dan topi habis dibagikan kepada pengantre.

3.1.2 Dunkin Donuts

Dunkin Donuts (DD) lahir dari kreativitas William Rosenberg tahun 1950 di Quincy, Massachusetts. Tahun 1985 Dunkin Donuts datang ke Indonesia. Di bawah bendera PT Dunkindo Lestari, Dunkin membuka gerai pertama di Jalan Hayam Wuruk 9, Jakarta Pusat. Saat ini Dunkin telah mempunyai 200 gerai di delapan kota besar di Indonesia.

\\\"Waktu itu kami harus memperkenalkan kepada anak-anak sekolah di Jakarta bahwa donat adalah makanan ringan, bergizi tinggi. Kami bersaing dengan makanan ringan tradisional,\\\" kata Alexander Wajong, General Manager Operasional Pemasaran PT Dunkindo Lestari.

Tahun 1988, donat dari Dunkin mulai diterima sebagai makanan ringan. Saat itu banyak yang menjadikan Dunkin sebagai oleh-oleh. DD tetap diburu manakala ada produk baru yang hadir.

3.2 Strategi Operasi

Baik Krispy Kreme Doughnuts, Dunkin Donuts, maupun J.CO Donuts ketiganya menggunakan strategi operasi yang berbeda dalam meluncurkan dan menjalankan produknya.

Tujuannya tentu saja untuk menarik konsumen sebanyak-banyaknya dan menjadikan produk mereka sebagai produk yang paling unggul dan paling diinginkan di mata masyarakat.

Pada subbab-subbab berikut akan dibahas mengenai strategi operasi dari KK, DD, dan J.CO.

3.2.1 Strategi Operasi Krispy Kreme

Dari segi produk, kelebihan Krispy Kreme adalah sensasi rasa Krispy Kreme yang melting in your mouth ketika dimakan. Resep dan formulanya konon disimpan di dalam lemari besi. Teknik pembuatan donat ini juga sangat canggih. Krispy Kreme memproduksi adonan donat dan peralatannya sendiri untuk menjaga kualitas dan konsistensi produk sehingga tetap higienis. Krispy Kreme mengembangkan integrasi supply chain secara vertikal, dimana untuk pengembangan bisnis waralabanya, Krispy Kreme membuat pabrik khusus mesin pembuat donat yang dinamakan sebagai “Krispy Kreme Manufacturing and Distribution” di North Carolina dan Illinois.

Krispy Kreme mengandalkan konsistensi untuk membuat 250 lusin donat per jam. Untuk konsistensi ini agar dapat meng-global di seluruh outletnya di dunia, Krispy Kreme mengandalkan teknologi informasi dengan menunjuk seorang CIO, yaitu Frank Hood.

Pihak Krispy Kreme menjanjikan experience yang tidak dimiliki donat lain, yaitu experience be a hero. Krispy Kreme yang menyuguhkan 15 pilihan rasa mengandalkan hot original glazed sebagai unggulannya. Selain itu ada beberapa donat lainnya yang berlapis gula, berisi buah atau krim. Gerai Krispy Kreme juga menyediakan jus buah, minuman ringan, kopi spesial ala Krispy Kreme, dan minuman dingin.

Dari segi iklan, selama ini Krispy Kreme hanya menggunakan sedikit sekali iklan, Krispy Kreme dalam memperkenalkan produknya kepada masyarakat menggunakan cara seperti publisitas media lokal, pemberian sample secara gratis dan juga cerita dari mulut ke mulut.

Dari segi outlet, Krispy Kreme menerapkan konsep Doughnut Theatre, yaitu mempertunjukkan kepada konsumen dapur Krispy Kreme yang besar dan mesin pembuat donat canggihnya yang sedang beroperasi. Tidak heran hampir semua bagian dari outlet Krispy Kreme menggunakan kaca. Terdapat pula tanda Hot Light yang akan menyala apabila donat hangat Original Glazed telah siap menanti pembeli.

Krispy Kreme menurut teori Demographic Market Segmentation lebih menunjukkan pangsa pasarnya pada High Class Income. Hal tersebut tampak dari pemilihan lokasi gerai Krispy Kreme.

3.2.2 Strategi Operasi Dunkin Donuts

Dari segi produk, Dunkin Donuts mencoba terus melakukan penyesuaian rasa sesuai kemauan konsumen, tanpa menghilangkan rasa asli donat Amerika. Dunkin memiliki tekstur donat yang agak berbeda dari dua pesaingnya, KK dan J.CO. Donat Dunkin lebih tebal teksturnya dan lebih terasa kenyang di perut. Produk-produk donat yang ada di Dunkin kurang lebih sama dengan produk-produk milik kompetitornya, misalnya seperti donat dengan lapisan biji almond.

Dari segi iklan, Dunkin Donuts sepertinya sudah melalui masa-masa dimana iklan memegang peranan penting. Hal ini karena Dunkin Donuts telah memiliki outlet yang sangat banyak di Indonesia, dan memasukkan nama Dunkin sebagai “pemain lama” yang telah banyak dikenal masyarakat. Masuknya Dunkin Donuts sebagai market leader di industri donat Indonesia telah berlangsung sejak tahun 1985.

Dari segi outlet dan layanan, Dunkin tidak menerapkan konsep mempertontonkan proses pembuatan seperti yang disuguhkan oleh J.CO ataupun Krispy Kreme. Namun sejak Oktober 2006, Dunkin meluncurkan konsep layanan self service. Dengan konsep ini, para pelanggan bisa langsung memilih produk yang diinginkannya. Tidak perlu lagi menunjuk produk dan meminta pelayan untuk mengambilkannya. Menurut Alexander Wajong, General Manager Operasional dan Pemasaran Dunkin Donuts Indonesia, lewat konsep ini para pelanggan punya kebebasan. “Konsep ini juga berhasil menghilangkan pembatas antara customer ke produk. Dengan dilepasnya pembatas tersebut, customer bisa punya pengalaman tersendiri.”, katanya. Terus terang, lanjut Wajong, langkah ini muncul karena pelanggan Indonesia menuntut layanan yang sangat tinggi. Beda dengan Amerika yang lebih banyak mempertimbangkan faktor kebersihan dan kecepatan dalam penyajian. Layanan terbaru dari Dunkin ini baru diterapkan di outlet Mal Taman Anggrek, Jakarta dan di Hayam Wuruk. Tetapi konsep ini sudah diterapkan Dunkin di Korea (2002) dan Thailand (2004).

Untuk mengaplikasikan konsep ini, Dunkin masih dalam tahap transisi. Di dua outlet itu masih disediakan crew untuk membantu. Pada akhirnya, tidak akan ada lagi crew yang membantu pelanggan untuk memilih donat. Rencananya, konsep ini akan berlaku di semua outlet Dunkin yang berjumlah 200-an, dan diperkirakan dapat terwujud dalam kurun waktu 4 tahun.

Konsep self service ini digunakan dengan tujuan meningkatkan penjualan dan menghadapi kompetitor yang semakin gencar. Konsep ini ternyata dapat membuat item-item produk terjual secara merata. Bahkan, untuk beberapa item produk yang tadinya mati bisa hidup kembali. Selain self service, Dunkin juga menyediakan fasilitas hot spot bagi pelanggannya. Namun fasilitas ini juga baru ada di outlet Mal Taman Anggrek dan Hayam Wuruk.

3.2.3 Strategi Operasi J.CO

Menurut Johnny Andrean sebagai pemilik J.CO, filosofi dari bisnis yang digelutinya sederhana saja, yaitu apapun yang dilakukan fokusnya selalu kepada pelanggan. Senantiasa mengeksplorasi kebutuhan pelanggan dan mendengar respon pelanggan adalah hal yang terpenting. Oleh karena itu J.CO memiliki hotline yang dapat diakses dengan telepon dan e-mail.

J.CO juga mempunyai konsep premium, oleh karena itu kualitas produk mendapat tempat nomor satu. Sebagus apapun experiential marketing yang diciptakan tidak akan sukses tanpa kualitas, karena lidah konsumen tidak dapat dibohongi. Konten (produk dan servis) serta kemasan harus sama-sama bagus, dan ada juga value untuk pelanggan dimana dalam hal ini J.CO menawarkan donat yang enak tetapi juga sehat. Pasalnya, J.CO tidak menggunakan gula, melainkan madu dan coklat murni yang baik untuk kesehatan. Untuk rasa daripada donat, J.CO memastikan rasanya tidak terlalu manis, sehingga lebih sehat untuk dikonsumsi.

Komunikasi juga menjadi unsur yang sangat diperhatikan. J.CO diperkenalkan dengan cara yang unik, sama sekali tidak ada promosi above the line saat peluncurannya. Johnny hanya mengandalkan kekuatan produk dan mengundang 77 selebriti yang kebetulan suka produk J.CO untuk melakukan J.Coing bersama-sama.

Dari segi produk, Johnny menggunakan sistem manajemen Kaizen, yaitu dengan peningkatan yang terus menerus dan diaplikasikan dengan meluncurkan produk baru minimal tiga bulan sekali. Unsur kreativitas tampak pada bentuk dan nama-nama yang diberikan pada donat. Penamaan pada donat disiapkan dengan cermat yang diikuti penjelasan pendek mengenai donat tersebut. Contohnya donat berlapis kacang almond, diberi nama Al Capone. Tidak lupa nama itu dibubuhi keterangan, \\\"Don’t miss Al Capone for a single day, the California almonds lower your cholesterol levels\\\". Nama-nama dari produk donatnya memang berbau kebarat-baratan karena konsep J.CO memang mengambil dari Amerika, tetapi donat yang ditawarkan oleh J.CO merupakan donat asli Indonesia. J.CO mengambil konsep luar negeri, dan disempurnakan dengan lebih moderen dan berkualitas. Donat J.CO dikemas dengan rasa yang lain, kualitas yang terbaik, dan topping yang meleleh di mulut. Konsep produk dikemas dalam bentuk fresh, moderen, dan dengan kualitas yang terbaik. J.CO saat ini telah mempunyai 20 jenis rasa donat.

Dari segi iklan dan cara berkomunikasi, J.CO menciptakan J.Coing, J.CO Safari, dan J.Community. Hal ini dibuat karena bisnis ini bersentuhan dengan life style, dan nantinya akan terus dikembangkan “J.CO-J.CO” lain yang akan menjadi buah bibir. Mulanya J.CO tidak pernah memasang iklan di koran ataupun televisi, J.CO memanfaatkan kegiatan Public of Relation (PR) dan word of mouth. Namun dengan hadirnya Krispy Kreme yang memanfaatkan cara berkomunikasi yang sama, maka J.CO kemudian mulai memanfaatkan media komunikasi yang belum dipakai oleh kompetitor. Iklan koran pertama J.CO muncul di Kompas, edisi Sabtu 23 September 2006.

Dari segi outletnya, minimalis, moderen dan fresh adalah konsep yang dipakai J.CO untuk setiap counter yang mana membawa misi dan visi untuk menjadikan donat sebagai gaya hidup di Indonesia. Dalam perancangan setiap counternya J.CO dibuat seperti butik: enak dilihat, nyaman buat gaul, selain tentu sedap disantap. Dibantu dengan desain dari piring dan meja yang menggunakan bahan gelas untuk menekankan efek ringan. Untuk antrian yang tidak bisa dihindarkan, J.CO sudah mengantisipasinya dengan memberi sampling minuman berasa karamel dan konsep open kitchen yang merupakan unggulan J.CO. Dengan open kitchen ini, sambil menunggu konsumen mempunyai tontonan tersendiri, sekaligus ditunjukkan bahwa donat serta kopi atau the

yang dibuat semuanya fresh from the oven.

Untuk konsumen yang tidak ingin mengantri karena cuma ingin membeli minuman, maka disediakan kasir tersendiri. Konsumen yang membeli minuman akan mendapatkan satu buah donat gratis sebagai komplimen, dan jika ingin menambah hanya boleh memesan maksimal tiga donat, dan tidak merupakan komplimen lagi.

J.CO menerapkan Mass Segmentation karena dilihat dari letak gerai yang dibuka di Jakarta tidak ditargetkan untuk kelas tertentu. Seperti dibukanya gerai di mall Senayan City yang pangsa pasarnya adalah Super High Income. Mall Taman Anggrek dan The Plaza Semanggi yang pangsa pasarnya adalah Middle Income. Sedangkan gerai di Mangga Dua Square pangsa pasarnya adalah Low Income. Dari letak gerai ini menjadikan target pasar J.CO tidak terspesifikasi secara jelas seperti halnya KK.

3.3 Perbandingan J.CO, Krispy Kreme, dan Dunkin Donuts

Pada Tabel 1 Perbandingan di bawah ini, disediakan informasi mengenai perbandingan karakter dan kecocokan dari dari J.CO, Krispy Kreme, dan Dunkin Donuts.

Tabel 1

Perbandingan

Donat Karakter Cocok Buat...

Dunkin Donuts • Roti donatnya lebih tebal, berat, dan gurih

• Dijual dengan harga ± Rp 4.000,-an

• Isi selai lebih banyak, tetapi tidak terlalu manis

• Gerai donat pertama yang mengeluarkan donat bertopping mesis rasa mint, topping gula beku (frosted sugar) rasa stroberi, dan topping peanut butter dengan isi coklat di dalamnya

• Dapat dibeli di hampir tiap mal di Jakarta, pulau Jawa, dan Bali tanpa antri

• Berani tampil dengan topping warna-warni permen rasa manis • Yang tidak doyan makanan sangat manis

• Pengganti makanan berat karena mengenyangkan

• Ditemani jus buah

J.CO • Roti donat lebih tipis, manis, dan ringan

• Dijual dengan harga ± Rp 5.500 – 6.000,-an

• Topping cokelatnya aduhai karena kekentalannya

• Gerai donat pertama di Indonesia yang memakai sistem open kitchen, menjual donat varian glazed, dan membuat donat berbentuk mahkota (J-Crown)

• Dapat dibeli di mal-mal besar Jakarta, Surabaya, Bali dengan real

mengantri • Penggemar makanan manis

• Makanan ringan, tapi tidak mengenyangkan

• Dimakan dengan kopi atau susu cokelat

Krispy Kreme • Roti donat lebih tipis dan sangat manis dan ringan

• Dijual dengan harga ± Rp 6.000 – 7.000,-an

• Topping lumuran gula (glazed) lebih bervariasi seperti dicampur sirup maple atau krim kental

• Bentuk donat lebih bervariasi, ada yang keriting, ada yang mirip bantal chubby, ada pula yang adonannya mirip brownies

• Dapat dibeli di mal-mal besar Jakarta dengan sedikit mengantri • Penggemar makanan sangat manis sekali

• Dimakan sambil minum kopi pahit

• Makanan ringan tapi tidak mengenyangkan

BAB IV

IMPLIKASI MANAJERIAL

Secara teori Market Concept of Competition, yang terjadi pada J.CO adalah Direct Competition dan Indirect Competition.

Direct Competition adalah kompetisi yang dihadapi secara langsung dengan produk yang sama. Kompetitor J.CO dalam konsep ini adalah Krispy Kreme Doughnuts dan Dunkin Donuts.

Indirect Competition adalah kompetisi yang dihadapi secara tidak langsung karena produk yang dibuat oleh kompetitor tidak khusus. Sehingga kompetitor J.CO dalam konsep ini adalah toko roti retail setempat.

J.CO tampaknya banyak mengadaptasi baik dari segi rasa, cara beriklan, maupun konsep yang digunakan dari Krispy Kreme. Hanya saja J.CO menambahkan variasi di sana-sini, misalnya saja topping untuk donat dibuat lebih bervariasi dengan nama-nama dan keterangan yang unik, serta rasa dari donat yang tidak semanis Krispy Kreme.

J.CO cukup berhasil dan tangguh dalam menghadapi kompetitor-kompetitornya. Hal ini dapat dilihat dari antrian J.CO yang tetap paling panjang meskipun ada kompetitor lain. Rupanya strategi yang diterapkan J.CO, baik dari segi produk, lokasi dan outlet, serta komunikasi dan iklan cukup jitu dan ampuh. J.CO tetap mendapatkan tempat di hati penggemarnya meskipun banyak kompetitor yang bermunculan. Dari segi harga, J.CO real

tif lebih mahal dari Dunkin Donuts tetapi real

tif lebih murah dari Krispy Kreme.

REFERENSI

Philip Kotler dan Kevin Lane Keller, Marketing Management, 12th edition, 2006

Thompson dan Strickland, Management Concepts and Cases, 13th edition, 2004

Gadis No. 01.XXXIV.9-18 Januari 2007

Marketing No. 01/VI/Januari/2007

Pengusaha Edisi 60, Mei 2006

Http://www.rileks.com/module.php?mod=lifestyle&art_id=13092006075512&act=detnews

Http://swa.co.id/swamajalah/swadigital/details.php?cid=1&id=1416

Http://www.conectique.com/get_updated/article.php?article_id=4065

Http://kompas.com/kompas-cetak/0609/10/kehidupan/2941936.htm

Http://kompas.com/kompas-cetak/0609/23/Fokus/2971699.htm

Http://www.swa.co.id/swamajalah/praktik/details.php?cid=1&id=3992&pageNum=1

Http://www.dunkinina.com/produk.asp

Http://www.jcodonuts.com/product.html



Get Better Grades Today

Join Essays24.com and get instant access to over 60,000+ Papers and Essays

closeLogin
Please enter your username and password
Username:
Password:
Forgot your password?